Rabu, 25 Februari 2015

Begini Cara Setan Menyerang saat Tidur

Sesungguhnya setan tidak akan pernah lelah, apalagi menyerah mengawasi dan memperdaya manusia.
"Saat kita tidur, bukan berarti setan tidur juga. Justru, saat kita tidur, menjadi peluang besar bagi setan untuk menyerang kita, karena kita sering kali lupa mengingat Allah," tulis Pimpinan Majelis Az-Zikra, KH. Muhammad Arifin Ilham.
Kata Ustaz Arifin, banyak orang yang dikala bangun senantiasa beramal sholeh dan dzikir tiada terputus, tapi menjelang tidur, ketika tubuh benar-benar lelah, dia enggan bahkan rela melenakan dirinya dalam kenyamanan tidur sampai-sampai lupa berdzikir.
Berikut ini adalah serangan-serangan setan yang dilancarkan saat kita tidur;
1. Menyihirnya
Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam, bersabda : "Setan mengikat di atas ubun-ubun kepala salah satu dari kalian –saat tidur- 3 ikatan, di setiap ikatan ia berucap : bagimu malam panjang, tidurlah! Maka jika ia bangun seraya berzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan, Jika ia wudhu’ lepas satu ikatan lagi, jika ia sholat lepaslah semua ikatan. Pagi-pagi ia giat dan segar jiwanya, jika ia tidak berdzikir, maka pagi-pagi ia malas dan jelek jiwanya." (Muttafaqun ‘alaih)

2. Merendahkannya
Jika ada orang yang tidur sampai pagi, tidak bangun sedikitpun untuk sholat malam, cengkeraman setan bertambah kuat.
Dari Abdullah bin Mas’ud, diceritakan hal ini, yaitu orang yang ketiduran, kepada Rasulullah, beliau bersabda : "Orang itu dikencingi setan di kedua telinganya." (Muttafaqun ‘alaih)

3. Menakut-nakutinya
Setan datang dengan mimpi-mimpi buruk, Rasulullah bersabda : "Mimpi itu ada 3 : 1. Mimpi yang baik, itu kabar baik dari Allah, 2. Mimpi yg menakutkan itu dari setan, 3. Mimpi dari bisikan jiwanya, yaitu memori yang terulang. Jika ada yg mimpi diantara kamu yang tidak menyenangkan, maka bangunlah, sholatlah dan jangan ceritakan ke orang lain." (Bukhori dan Muslim)

4. Menertawakannya saat menguap
Setan tertawa saat melihat orang yang menguap, karena menguap muncul dari malas (letih), sehingga tidak dapat mengerjakan ketaatan secara sempurna, dan wajahnya terlihat tidak menarik atau lesu.
Rasulullah bersabda: "Jika ada di antaramu ada yang menguap, maka tahanlah dengan tangannya di mulutnya atau tutuplah, karena setan akan masuk melalui mulutnya." (HR. Muslim)

Selasa, 24 Februari 2015

BUDI PEKERTI RASULULLAH SAW



“Rasulullah saw.bukanlah orang yang keji,beliau tidak membiarkan kekejian,tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabat tangan.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muahammad bin Ja’far, dari Syu’bah, dari Abi Ishaq, dari Abi `Abdullah al Jadali, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
“Rasulullah saw. tidak pernah memukul sesuatu dengan tangannya, kecuali tatkala beliau berjihad fi sabilillah. Beliau pun tidak pernah memukul pembantu dan wanita.”
(Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq al Handzani, dari `Ubadah, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
“Aku mendengar Jabir bin `Abdullah r.a. berkata: `Tak pernah kudengar
Rasulullah saw. dimintai sesuatu, kemudian beliau berkata “tidak”.’
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan,yang bersumber dari Muhammad bin al Munkadir r.a.)
“Nabi saw. tidak menyimpan sesuatu untuk hari esok.”(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Ja’far bin Sulaiman, dari Tsabit, yang
bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
“Sesungguhnya Nabi saw menerima hadiah dan membalas hadiah.”
(Diriwayatkan oleh `Ali bin Khasyram dan lainnya, dari `Isa bin Yunus, dari Hisyam bin `Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
TAWADLU RASULULLAH SAW
“Rasulullah saw. bersabda :”Janganlah kalian berlebihan memuji daku
sebagaimana kaum Nasrani yang berlebihan memuji anak Maryam. Aku
hanyalah seorang hamba, oleh sebab itu katakanlah (panggillah) `Abdullah(hamba Allah) dan Rasul-Nya.”(Diriwayatkan oleh Ahmad bin Mani’, diriwayatkan pula oleh Sa’id bin `Abdurrahman al Makhzumi dan sebagainya, mereka menerima dari Sufyan bin `Uyainah, dari Zuhri, dari
`Ubaidilah,dari Ibnu Abbas r.a., yang bersumber dari `Umar bin Khattab r.a.)
“Rasulullah saw. bersabda :”Sekalipun kepadaku hanya dihadiahkan betis
binatang, tentu akan kuterima. Dan sekiranya aku diundang makan betis
binatang, tentu akan kukabulkan undangannya. “
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin `Abdullahbin Bazi’, dari Basyar bin al Mufadlal, dari Sa’id dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
`Aisyah r.a. ditanya:”Apakah yang dikerjakan Rasulullah saw. Di rumahnya ?”`Aisyah r.a. menjawab:”Beliau adalah seorang manusia biasa, beliau adalah seorang yang mencuci bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan melayani dirinya sendiri.”
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Isma’il, dari’Abdullah bin Shalih, dari Mu’awiyah bin Shalih, dari Yahya bin Sa’id,yang bersumber dari `Amrah)
TANGIS RASULULLAH SAW
“Rasulullah saw. bersabda kepadaku:”Bacakan al Qur’an untukku!” “Wahai Rasulullah saw.! Mana mungkin aku membacakannya kepada Anda, bukankah ia diturunkan kepada Anda?”Beliau bersabda:”Sungguh aku ingin mendengarkannya dari selain daku.” Maka kubacakan surat an Nisa, sampai ayat: “Waji’na bika `ala ha ula-I syahida.” (Dan Kami mendatangkan kamu sebagai saksi atas mereka). (Q.S. 4 an- Nisa: 41). `Abdullah bin Mas’ud berkata :”Maka kulihat kedua mata Rasulullah saw. bercucuran air mata.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan , dari Mua’wiyah bin Hisyam, dari Sufyan, dari al A’masy, dari Ibrahim, dari `Ubaid, yang bersumber dari `Abdullah bin Mas’ud r.a.)
“Rasulullah saw. mencium `Utsman bin Madh’un* tatkala ia telah wafat. Dan ketika itu beliau menangis.” Atau (kata perawi ragu): “Kedua matanya berlinang air mata.”(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Sufyan, dari Ashim bin `Ubaidilah*, dari Qasim bin Muhammad*, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
• ‘Utsman bin Madh’un adalah saudara sesusu Rasulullah saw. Ia wafat dua setengah tahun setelah hijrah.
• Ashim bin `Ubaidilah dadla’ifkan oleh Ibnu Ma’in, menurut keterangan Bukhari,periwayatannya munkar
• Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, merupakan salah seorang fukaha Madinah yang tujuh,dari generasi kedua dan periwayatnnya dikeluarkan oleh jama’ah.
CARA TIDUR RASULULLAH SAW
“Sesungguhnya Nabi saw. bila berbaring di tempat tidurnya, beliau letakkan telapak tangannya yang kanan di bawah pipinya yang kanan, seraya berdo’a:
“Rabbi qini `adzabaka yauma tab’atsu `ibadaka.” (Ya Rabbi,peliharalah aku dari azab-Mu pada hari Kau bangkitkan seluruh hamba-Mu).
(Diriwayatkan oleh Muhammad bin al Matsani, dari `Abdurrahman bin Mahdi, dari Israil,dari Abi Ishaq, dari `Abdullah bin Yazid, yang bersumber dari al Bara bin `Azib r.a.)
“Bila Rasulullah saw. berbaring di tempat tidurnya,maka beliau berdo’a :
“Allahumma bismika amutu wa ahya’. (Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup).Dan bila Beliau bangun,maka Beliau membaca: “Alhamdulillahilla dzi ahyana ba’dama amatana wailaihin nusyur.” (Segala puji bagi Allah, yang telah menghidupkan aku kembali setelah mematikan daku dan kepada-Nya tempat kembali).
(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari `Abdurrazaq, dari Sufyan, dari `Abdul Malik bin `Umair, dari Ruba’I bin Hirasyi, yang bersumber dari Hudzaifah r.a.)
“Sesungguhnya bila Nabi saw. istirahat dalam musafirnya di malam hari, Beliau berbaring ke sebelah kanan. Dan bila Beliau istirahat pada musafirnya menjelang subuh, maka Beliau tegakkan lengannya dan diletakkannya kepalanya diatas tangannya.”(Diriwayatkan oleh alHusein bin Muhammad al Hariri, dari Sulaiman bin Harb,dari Hammad bin Salamah dari Humaid, dari Bakr bin `Abdullah al Mazini, dari `Abdullah bin Rabbah, yang bersumber dari Abi Qatadah r.a.)
KEHIDUPAN RASULULLAH SAW
“Kami berada di samping abu Hurairah r.a. sedang ia memakai dua lembar kain kattan* yang dicelup bahan Lumpur merah. Lalu ia membuang ingusnya pada salah satu dari dua kainnya itu. Ia berkata : “Bakh, Bakh*”. Abu Hurairah membuang ingusnya pada kain kattan itu. Selanjutnya ia bercerita :”Sungguh,aku teringat kembali ketika aku tersungkur diantara mimbar Rasulullah saw.
dengan kamar `Aisyah r.a. karena pingsan. Tiba-tiba datang seorang laki-laki lantas ia letakkan kakinya di atas leherku. Ia mengira aku dalam keadaan gila.Sebenarnya aku tidak gila,tapi kejadian itu hanyalah kelaparan.”(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa’id, dari Hammad bin Zaid, dari Ayyub, yang bersumber dari Muhammad bin Sirin*)
• Kain Kattan ialah kain yang terbuat dari serat kayu. Atau kain yang dibuat dengan cara kasar,biasanya disebut kain rami.
• bakh, bakh ialah kalimat yang sering digunakan oleh orang Arab untuk menyatakan rasa kagum, atau rasa senang, atau tidak menyenangi sesuatu. Pada hadist ini, kalimat bakh,bakh berarti suatu isyarat terhadap pernyataan kurang senang, atau keadaan yang menyedihkan.
• Muhammad bin Sirin al Bashri adalah maula (budak yang dibebaskan) Anas bin Malik r.a.
“Rasulullah saw. tidak pernah kenyang makan roti, dan tiada pula dengan daging, kecuali dalam keadaan dlaffaf.”(Diriwayatkan oleh Qutaibah, dari Ja’far bin Sulaiman ad Dluba’I, yang bersumber dari Malik bin Dinar r.a.)
Malik bin Dinar selanjutnya berkata: “Aku bertanya kepada seorang laki-laki dari pedusunan: “Apa yang dimaksud dengan dlaffaf?” Ia menjawab: “Makan bersama orang banyak.” “Sesungguhnya kami, keluarga Muhammad saw.
pernah selama sebulan tidak menyalakan api (tidak menanak apapun) kecuali korma dan air.”(Diriwayatkan oleh Harun bin Ishaq,dari Ubadah, dari Hisyam bin `Urwah, dari ayahnya yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
“Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku dijadikan takut oleh Allah dan tiada seorangpun yang diberi rasa takut sebagaimana aku. Sungguh, aku telah ditimpa cobaan di jalan Allah, dan tiada seorangpun yang mendapat cobaan sebagaimana aku.Sungguh merupakan pengalaman bagiku, yaitu selama tiga puluh hari tiga puluh malam, aku dan bilal tidak mendapatkan makanan yang pantas dimakan orang yang mempunyai rongga perut. Waktu itu hanya ada sedikit makanan yang disembunyikan pada ketiak bilal.”(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Rauh bin Aslam Abu Hatim al Bashri,dari Hammad bin Salamah, dari Tsabit, yang bersumber dari Anas r.a.)
NAMA-NAMA RASULULLAH SAW
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bagiku ada beberapa nama, Yaitu:
Aku Muhammad, aku Ahmad dan aku al Mahi, maksudnya: dengan jalan aku,Allah membasmi kekafiran.Aku juga digelari al Hasyir,yang maksudnya: umat manusia dihimpun di belakangku.
Akupun digelari al `Aqib (penerus para Nabi)”al Aqib adalah yang tiada diiringi di belakangnya oleh hadirnya seorang Nabi.”(Diriwayatkan oleh Sa’id bin `Abdurrahman al Makhzumi dan lainnya, dari Sufyan, dari az
Zuhri, dari Muhammad bin Jabir bin Muth’im bin `Adi*, yang bersumber dari bapaknya)
• Muth’im bin `Adi adalah pembesar kota Mekkah.”Aku bertemu dengan Nabi saw. pada suatu jalan di Madinah. Ia bersabda: “Aku Muhammad, aku Ahmad, aku Nabiyur-Rahmah( Nabin pembawa Rahmat) dan
aku Nabiyut-Thaubah (Nabi pengajar taubah). Aku al Muqaffi (yang datang mengikuti jejak para Nabi). Aku al Hasyir dan Nabiyul Malahim (Nabi yang mengalami beberapa peperangan). “(Diriwayatkan oleh Muhammad bin Tharif al Kufi, dari Abu Bakar bin `Iyyasy*, dari `Ashim,
dari Abi Wa’il, yang bersumber dari Hudzaifah r.a.)
• Abbu Bakar bin `Iyyasy, nama sebenarnya diperselisihkan. Ada yang mengatakan Muhammad, ada yang mengatakan `Abdullah, atau Salim, atau Syu’bah. Namun kesemuanya juga Tsiqat.
BEKAM RASULULLAH SAW
“Rasulullah saw. berbekam, yang membekamnya adalah Abu Thaibah, maka beliau memerintahkan untuk memberinya dua sha’* makanan. Rasulullah saw.
berbicara kepada tuannya (tuan tukang bekam), lalu mereka mengugurkan kharajnya*.” Rasulullah saw. bersabda :”Sesungguhnya cara pengobatan kalian yang paling afdhal ialah berbekam.” Atau (perawi ragu) :”Sesungguhnya cara pengobatan kalian yang utama adalah berbekam.”(Diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr, dari Isma’il bin Ja’far, dari Humaid, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
KEPEKAAN RASULULLAH SAW
“Nabi saw. sangat peka melebihi anak dara pada pingitannya. Apabila beliau tidak menyenangi sesuatu, kami dapat mengetahuinya dari perubahan air mukanya.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Abu Daud, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari `Abdullah bin Abi `Utbah, yang bersumber dari Abu Sa’id al Khudri r.a.)
`Aisyah berkata :”Aku tidak pernah memandang kemaluan Rasulullah saw.” Atau ia berkata :”Sekali-kali aku tidak pernah melihat kemaluan Rasulullah saw.”(Diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki’, dari Sufyan, dari Manshur, dari Musa bin `Abdullah bin Yazid al Khathimi, dari Maula `Aisyah, yang bersumber dari `Aisyah r.a.)
• Abu Thaibah adalah nama panggilan bagi Nafi’, ia adalah budak Bani Haritsah atau budak kepunyaan Abu Mas’ud al Anshari.
• Sha’(gantang) adlah takaran. Satu Sha’sama dengan empat mud, sedangkan satu mud sama dengan tujuh ons.
• Kharaj ialah suatu kesepakatan antara tuan dengan budak untuk membayar kepada tuannya sejumlah uang, sewaktu budak tidak bekerja pada tuannya.Dalam peristiwa ini Abu Thaibah seharusnya membayar tiga Sha’, tapi karena ia telah membayar dua Sha’, hasil membekam Rasulullah saw. Maka yang satu Sha’lagi digugurkan oleh tuannya setelah Rasulullah saw. berbicara dengan tuannya.
“Nabi saw. berbekam dan memerintahkan kepadaku (untuk membayar), maka kuberikan pada tukang bekam upahnya.”(Diriwayatkan oleh `Amr bin `Ali, dari Abu Daud, dari Waraqa’ bin `Umar, dari `Abdil A’la,
dari Abi Jamilah, yang bersumber dari `Ali k.w.)”Rasulullah saw. pernah berbekam pada dua urat leher dan tengkuk.Beliau
berbekam pada tanggal 17,19, dan 21.”(Diriwayatkan oleh `Abdul Quddus bin Muhammad al `Athar al Bashri, dari `Amr bin Ashim, dari Hamman,dan diriwayatkan pula oleh Jarir bin Hazm,keduanya menerimanya dari Qatadah, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.)
“Rasulullah saw. bersabda :”Barangsiapa berbekam pada tanggal 17,19 dan 21,tentulah tindakannya itu jadi penyembuh bagi setiap penyakit.”
(Riwayat Abu Daud)

Pesan Rasulullah Untuk Muslimah

oleh Dedy Al Sobirin pada 28 Desember 2012 pukul 10:42 ·

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda. : “Barang siapa beriman kepada Allah SWT. dan Hari Akhir, hendaklah ia tidak menganggu tetangganya. Jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan dengan baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika engkau berusaha untuk meluruskannya, tulang itu akan patah. Jika engkau membiarkannya, tulang itu tetap bengkok. Oleh karena itu, jagalah pesanku tentang kaum perempuan agar mereka diperlakukan baik.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Perempuan, Muslimah atau biasa disebut kaum Hawa. Begitu istimewa hingga menjadi nama dalam salah satu surat di Al-Quranul Kariim. Begitu banyak kelebihan juga kekurangan, perempuan yang juga disebut-sebut sebagai ahli neraka paling banyak. Na’udzubillah.
Dalam hadits diatas menyoroti kelemahan alamiah perempuan. Dalam dirinya ada kebengkokan naluriah yang tidak bisa diluruskan oleh siapapun. Namun demikian tuntutan kebijaksanaan Allah Swt., sebagaimana termasuk kebijaksanaanNya. Dia menjadikan laki-laki memiliki kemampuan untuk memelihara hal ini dengan membawanya pada pergaulan yang baik.
Imam Al-ghazali seperti dikutip dalam Al-lu’lu’ wal marjan karya Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi, berkata, “Salah satu kewajiban suami terhadap istri adalah meperlakukannya dengan baik. Perlakuan baik kepadanya bukan hanya tidak menyakitinya, melainkan juga bersabar atas perilaku buruk, kelambanan, dan kemarahannya untuk meneladani Rasulullah Saw. Ketahuilah bahwa ada istri beliau yang mengejek beliau dengan mengulang perkataanya dan ada pula yang tidak memperdulikan beliau hingga malam. Lebih dari itu, laki-laki dapat lebih bersabar atas perilaku buruk istri dengan humor yang bisa menyenangkan hati.”
Berikut ini ada sepuluh wasiat Rasulullah saw. kepada putrinya Fatimah Az-Zahra. Wasiat ini merupakan mutiara termahal nilainya, khususnya bagi setiap istri yang mendambakan kesalehan. Wasiat tersebut adalah:
1. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, kelak Allah akan tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diaduknya, dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya.
2. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.
3. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya, maka Allah akan tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.
4. Wahai Fatimah! Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangga-tetangganya, maka Allah akan membantunya untuk dapat meminum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
5. Wahai Fatimah! Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.
6. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita mengandung, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, dan Allah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan, serta melebur seribu kejelekan.
Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para pejuang Allah. Disaat seorang wanita melahirkan kandungannya, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Disaat seorang wanita meninggal karena melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun, didalam kubur akan mendapat taman yang indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan padanya pahala yang sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.
7. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam, dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau. Dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah pun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.
8. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri tersenyum dihadapan suaminya, maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.
9. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
10. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggotnya dan memotong kumisnya serta kuku-kukunya. Maka Allah akan memberi minuman yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah pun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allah pun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustaqim dengan selamat.
Subhanalloh, betapa bersyukurnya kita menjadi seorang perempuan. Diberikan berbagai kelebihan dan keistimewaan juga kemudahan memasuki surga. Semoga kita termasuk ke dalam golongan ahli surga dan menjadi bidadari yang dinantikan surga.

Antara Al Qur’an dan Tauhid



Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai umat manusia, sungguh telah datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang.” (QS. an-Nisaa’: 174)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah adalah penolong bagi orang-orang yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan.” (QS. al-Baqarah: 257)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. al-An’aam: 122)
Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Qur’an dan cahaya iman. Keduanya dipadukan oleh Allah ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba Kami yang Kami kehendaki.” (QS. asy-Syura: 52)
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “…Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu al-Qur’an dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi pemiliknya selain ilmu tentang keduanya.” (lihat al-’Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 38)
A. Tauhid Intisari Ajaran al-Qur’an
Imam Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah mengatakan, “al-Qur’an berisi pemberitaan tentang Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Inilah yang disebut dengan istilah tauhid ilmu dan pemberitaan. Selain itu al-Qur’an juga berisi seruan untuk beribadah hanya kepada-Nya yang tiada sekutu bagi-Nya serta ajakan untuk mencampakkan sesembahan selain-Nya. Itulah yang disebut dengan istilah tauhid kehendak dan tuntutan. al-Qur’an itu juga berisi perintah dan larangan serta kewajiban untuk patuh kepada-Nya. Itulah yang disebut dengan hak-hak tauhid dan penyempurna atasnya. Selain itu, al-Qur’an juga berisi berita tentang kemuliaan yang Allah berikan bagi orang yang mentauhidkan-Nya, apa yang Allah lakukan kepada mereka ketika masih hidup di dunia, dan kemuliaan yang dianugerahkan untuk mereka di akherat. Itulah balasan atas tauhid yang dia miliki. Di sisi yang lain, al-Qur’an juga berisi pemberitaan mengenai keadaan para pelaku kesyirikan, tindakan apa yang dijatuhkan kepada mereka selama di dunia, dan siksaan apa yang mereka alami di akherat. Maka itu adalah hukuman bagi orang yang keluar dari hukum tauhid. Ini menunjukkan bahwa seluruh bagian al-Qur’an membicarakan tentang tauhid, hak-haknya, dan balasan atasnya. Selain itu, al-Qur’an pun membeberkan tentang masalah syirik, keadaan pelakunya, serta balasan atas kejahatan mereka.” (lihat Syarh al-’Aqidah ath-Thahawiyah dengan takhrij al-Albani, hal. 89 cet. al-Maktab al-Islami)
Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Secara keseluruhan al-Qur’an mengandung penetapan tauhid dan penolakan atas lawannya. Mayoritas ayat mengandung penetapan dari Allah terhadap tauhid uluhiyah dan keharusan untuk memurnikan ibadah semata-mata untuk Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Di dalamnya juga diberitakan bahwasanya segenap rasul tidaklah diutus melainkan untuk mengajak kaumnya supaya beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan bahwasanya tidak ada tujuan Allah dalam menciptakan jin dan manusia selain agar mereka beribadah kepada-Nya. Dikabarkan pula bahwasanya seluruh kitab suci dan para rasul yang diutus bahkan fitrah dan akal sehat manusia; semuanya telah menyepakati pokok ini. Yang hal itu merupakan pokok yang paling mendasar diantara seluruh pokok ajaran agama. Dan barangsiapa yang tidak beragama dengan agama ini -yang pada hakikatnya adalah pemurnian ibadah kepada Allah, hati dan juga amalan, untuk Allah semata- maka seluruh amalnya sia-sia.” (lihat al-Qowa’id al-Hisan li Tafsir al-Qur’an, sebagaimana dalam al-Majmu’ah al-Kamilah [8/23])
B. Metode al-Qur’an Dalam Menetapkan Keesaan Pencipta
Syaikh Shalih al-Fauzan menerangkan 3 metode al-Qur’an dalam menetapkan hal ini:
  1. Suatu perkara yang sudah pasti bahwa sesuatu yang baru ada maka pasti ada yang menciptakannya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu sebelumnya, ataukah mereka sendiri yang menciptakan?” (QS. ath-Thur: 35). Ayat ini menunjukkan bahwa tidak mungkin makhluk tercipta begitu saja tanpa ada pencipta, atau bahkan dia menciptakan dirinya sendiri, itu lebih tidak mungkin lagi. Maka hanya ada satu kemungkinan bahwa mereka ada karena diciptakan oleh Allah semata
  2. Keteraturan alam semesta ini menunjukkan bahwa ia memiliki satu pencipta dan pengatur yang mengatur segala sesuatu yang ada di dalamnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Allah tidaklah mengangkat seorang anak pun dan tidak ada bersama-Nya sesembahan yang lain -yang benar- sebab jika ada niscaya setiap sesembahan itu akan pergi membawa ciptaannya dan sebagiannya tentu akan mengalahkan yang lain.” (QS. al-Mukminun: 91)
  3. Kepatuhan segenap makhluk dalam menjalankan tugasnya masing-masing di alam semesta ini. Oleh sebab itu tatkala berdialog dengan Fir’aun Nabi Musa ‘alaihis salam mengungkapkan hal ini kepadanya. Allah ta’ala menceritakan (yang artinya), “Dia (Fir’aun) berkata: “Siapakah Rabb kalian berdua wahai Musa?” Musa pun menjawab: “Rabb kami adalah yang telah memberikan penciptaan kepada seluruh makhluk-Nya dan kemudian menunjuki mereka.” (QS. Thaha: 49-50). Ini semua Allah beberkan di dalam al-Qur’an dalam rangka mewajibkan manusia untuk beribadah kepada Allah semata (bertauhid uluhiyah). Barangsiapa yang tidak melaksanakan tauhid uluhiyah maka dia bukanlah seorang muslim (diringkas dari at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-’Aali, hal. 32-35)
C. Metode Penetapan Tauhid Di Dalam al-Qur’an
Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah telah menyebutkan berbagai macam metode al-Qur’an dalam menyerukan tauhid uluhiyah. Diantaranya adalah:
  1. Perintah untuk beribadah kepada-Nya dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. Sebagaimana dalam ayat (yang artinya), “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. an-Nisaa’: 36). Dalam firman-Nya (yang artinya), “Wahai umat manusia, sembahlah Rabb kalian; Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian…” Sampai ayat, “Maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. al-Baqarah: 21-22)
  2. Pemberitaan dari Allah bahwasanya makhluk diciptakan adalah untuk beribadah kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)
  3. Pemberitaan bahwasanya Allah mengutus segenap rasul untuk mengajak beribadah kepada-Nya dan melarang penyembahan kepada selain-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul -yang berseru-: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. an-Nahl: 36)
  4. Perintah untuk bertauhid uluhiyah berdasarkan pengakuan terhadap keesaan Allah dalam hal rububiyah, penciptaan, dan pengaturan alam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),“Janganlah kalian sujud kepada matahari dan bulan, akan tetapi sujudlah kepada Yang telah menciptakannya.” (QS. Fushshilat: 37). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Apakah yang menciptakan itu sama dengan yang tidak menciptakan?” (QS. an-Nahl: 17)
  5. Perintah untuk beribadah kepada-Nya dengan landasan keesaan Allah dalam hal sifat-sifat kesempurnaan; yang hal itu tidak dimiliki oleh sesembahan-sesembahan orang musyrik (selain Allah). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka beribadahlah kepada-Nya dan teruslah bersabar dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang setara dengan-Nya?” (QS. Maryam: 65). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Milik Allah nama-nama yang terindah itu, maka berdoalah kepada Allah dengannya.” (QS. al-A’raf: 180). Allah menceritakan dakwah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam kepada ayahnya (yang artinya), “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak merasa cukup darimu barang sedikitpun.” (QS. Maryam: 42). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Jika kalian berdoa kepada mereka, maka mereka tidak akan bisa mendengar doa kalian.” (QS. Fathir: 140)
  6. Pembuktian kelemahan sesembahan-sesembahan orang musyrik. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak bisa menciptakan apapun, sementara mereka sendiri justru diciptakan. Tidak mampu untuk memberikan pertolongan kepada mereka. Menolong diri mereka sendiri pun tidak mampu.”(QS. al-A’raf: 191-192). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Serulah sesembahan-sesembahan selain-Nya yang kalian sangka [benar] itu. Karena mereka tidaklah kuasa untuk menyingkap bahaya dari kalian, dan tidak sanggup merubah apa-apa.” (QS. al-Israa’: 56)
  7. Pembuktian kebodohan orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah. Allah ta’alaberfirman (yang artinya), “Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang tidak bisa memenuhi seruannya hingga hari kiamat, sedangkan mereka itu dari doa yang mereka panjatkan adalah melalaikan.” (QS. al-Ahqaf: 5)
  8. Penjelasan mengenai akibat buruk yang diterima oleh orang-orang musyrik serta keadaan yang mereka alami bersama dengan sesembahan-sesembahan mereka di akherat kelak. Allah ta’alaberfirman (yang artinya), “Dan pada hari kiamat nanti mereka/sesembahan-sesembahan itu akan mengingkari syirik yang kalian lakukan.” (QS. Fathir: 14)
  9. Bantahan Allah kepada orang-orang musyrik yang mengangkat perantara dalam beribadah kepada Allah. Allah tegaskan bahwa seluruh syafa’at adalah milik-Nya, tidak diminta kecuali kepada-Nya, dan tidak ada yang bisa memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Allah ta’alaberfirman (yang artinya), “Apakah mereka mengangkat selain Allah sebagai pemberi syafa’at, maka katakanlah; meskipun seandainya mereka itu tidak memiliki apa-apa dan tidak pula berakal. Katakanlah; seluruh syafa’at itu hanya milik Allah. Milik-Nya kerajaan langit dan bumi.” (QS. az-Zumar: 43-44). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Siapakah yang bisa memberikan syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya.” (QS. al-Baqarah: 255)
  10. Penjelasan bahwasanya sesembahan selain Allah tidak menguasai sedikit pun kemanfaatan bagi orang yang menyembahnya. Apabila demikian keadaannya maka mereka sama sekali tidak berhak untuk disembah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Serulah siapa pun yang kalian sangka layak disembah selain Allah, padahal mereka itu tidak memiliki kekuasaan seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka juga sama sekali tidak punya peran serta dalam penciptaan langit dan bumi, dan tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (QS. Saba’: 22)
  11. Allah memberikan berbagai perumpamaan di dalam al-Qur’an untuk menjelaskan betapa besar kebatilan syirik. Diantaranya adalah firman-Nya (yang artinya), “Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah maka seolah-olah dia terjatuh dari langit dan kemudian disambar oleh burung atau dibawa pergi oleh tiupan angin ke tempat yang sangat jauh.” (QS. al-Hajj: 31) (diringkas dari al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 43-47)
D. Surat al-Fatihah dan Tauhid
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Surat ini mengandung makna-makna yang agung. Di dalamnya terkandung ketiga macam tauhid. Yang pertama adalah ‘al-Hamdu lillahi Rabbil ‘alamin’ di dalamnya terkandung tauhid rububiyah. Lalu ‘ar-Rahmanir Rahim, Maaliki yaumid diin’ di dalamnya terkandung tauhid asma’ wa shifat. ‘Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in’ di dalamnya terkandung tauhid ibadah. Sehingga ia telah mencakup ketiga macam tauhid tersebut.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 7 cet. Dar al-Imam Ahmad)
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Di dalamnya terkandung bantahan bagi kaum mulhid/atheis yang menganggap alam semesta ini tidak memiliki pencipta. Di dalam surat ini terkandung bantahan bagi mereka tatkala ia menetapkan bahwa alam memiliki Rabb yang menciptakannya, sebagaimana ditegaskan dalam kata ‘Rabbul ‘alamin’. Rabb bermakna yang mencipta dan memelihara seluruh makhluk dengan segala bentuk kenikmatan. Dia lah yang memperbaiki dan menguasainya. Semua makna ini telah termasuk dalam kata Rabb. Sehingga di dalamnya telah terkandung bantahan bagi kaum mulhid/atheis.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 8-9 cet. Dar al-Imam Ahmad)
Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Di dalamnya juga terkandung bantahan bagi orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’alaIyyaka na’budumengandung pemurnian ibadah untuk Allah semata; sehingga di dalamnya terkandung bantahan bagi orang-orang musyrik yang menyertakan selain Allah dalam beribadah kepada-Nya. Di dalamnya juga terkandung bantahan bagi berbagai kelompok umat ini yang melenceng dari jalan kebenaran semacam Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Asya’irah; yang mereka tersesat dalam masalah takdir. Ia juga mengandung bantahan bagi orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah; yaitu kaum Mu’aththilah yang menolak nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana halnya kaum Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’irah, Maturidiyah, dan lain sebagainya. Setiap kelompok yang menolak semua sifat Allah ataupun sebagiannya, maka surat ini membantah mereka semua.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 9-10 cet. Dar al-Imam Ahmad)
Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “al-Fatihah adalah Ummul Qur’an; dikarenakan seluruh maksud ajaran al-Qur’an terkandung di dalamnya. Ia telah mencakup tiga macam tauhid. Ia juga mencakup penetapan risalah, hari akhir, jalan para rasul dan jalan orang-orang yang menyelisihi mereka. Segala perkara yang terkait dengan pokok-pokok syari’at telah terkandung di dalam surat ini. Oleh karena itu ia disebut dengan Ummul Qur’an.” (lihat Syarh al-Mumti’ [2/82])
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf bahwa al-Fatihah menyimpan rahasia [ajaran] al-Qur’an, sedangkan rahasia surat ini adalah kalimat ‘Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in’. Bagian yang pertama (Iyyaka na’budu) adalah pernyataan sikap berlepas diri dari syirik. Adapun bagian yang kedua (Iyyaka nasta’in) adalah pernyataan sikap berlepas diri dari [kemandirian] daya dan kekuatan, serta menyerahkan [segala urusan] kepada Allah ‘azza wa jalla. Makna semacam ini dapat ditemukan dalam banyak ayat al-Qur’an.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/34] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah)